Kamis, 21 November 2013

CERPEN LUKISAN SENJA



LUKISAN SENJA
Dimana cinta menyembunyikan asa dan melelapkan perasaan saat cerita hanya sekedar cara kerinduan meramaikan kepedihan tatkala hari akan berakhir? Dimana empati alam semesta pada kepingan-kepingan hati yang terpenjara dalam nestapa yang kami menyebutnya gerimis kalbu? Bagaimana hati mempertanggung jawabkan luka di hadapan jiwa? Bagaimana jiwa akan menangis dan menjerit sedang air mata itu tak lagi terlihat, luka itu tak lagi berdarah, jeritan itu tak lagi terdengar dan kata-kata tak cukup mampu mengungkapakan kepedihan yang mendalam?
Gejala spekulasi masa lampau dan masa kini telah merubah peradaban sebagian manusia akan kehidupan dan kami yang berdiri di balik hari dan merenungi gelapanya adalah sebagian korban yang belum mampu bertahan dan menerobos pintu-pintu kekacauan, engkau melihat dia yang tertawa dengan kain compang camping  yang membalut tubuh mungilnya dia bukan tertawa wahai kehidupan yang buta, tapi dia menangisi hidupnya sendiri dan meratapi ketidak berdayaan dengan berpura-pura tegar dan kuat karena dia tahu tak akan ada yang mau melihtnya sebagai kelemahan, dan di balakang kami ini ada ribuan air mata yang tersembunyi dan engkau melihatnya sebagai gerimis yang biasa di curahakn langit untuk dahagamu, tapi jeritan itu berbeda dari guntur yang biasa menakutkanmu kala hujan mendera, lalu bagaimana caranya kami bebas dari kekacauan yang kami pun tidak menginginkannya. Malah kau datang dan tertawa lalu bertanya ada apa? Kau ini siapa? Dan untuk apa? Tapi kau lupa bertanya kau mengapa? Apa yang membuatmu sperti ini? Lalu saat kami menjelaskannya kau malah lari dengan keluarga biadabmu.
Dan aku melihat di tengah keramaian kota ini puisi dan syair berorasi dengan nada melasnya bahkan aku melihat ceramah dan pidato menggema bagai kabar kematian menakutkan dan menyedikan melonglong ke angkasa lepas lalu dia kembali di kabarkan langit menjadi bisikan-bisikan derita yang panjang tapi kau negriku dengan bangsa tulimu tidak mendengarnya dan tidak akan pernah mau mendengarkannya.
Aku pernah bertanya pada gadis kecil yang berdiri di tepi trotoar jalan. Dan aku kembali bertanya pada wanita paru baya dengan tangan kotornya dia merangkul perutnya, aku juga pernah mendapati sosok pria dan wanita renta terbaring di depan gereja dengan wajah lusuh merebahkan kepalanya pada akar pohon besar, terlihat apa yang mereka diami saat ini adalah rumah mereka tempat mereka bersembunyi dari keserakahan. Ada apa dengan hidup ini? pertanyaan segampang membolak balikkan tangan saja selalu saja di jawab dengan tangis luka, dan aku mengerti ini bukan salah siapa atau perbuatan siapa karena tangis yang terdengar dari bawah jembatan dan sungai-sungai yang di atasnya banyak melintas rupiah-rupiah dibawa lari orang-orang pemilik istana kaca dan gedung-gedung pencakar langit. Lalu sesekali kulihat kerumunan manusia berpesta dan menyanyikan lagu di antara petikan gitar dan piano aku melihat seorang pemimpin duduk manis di atas tahta dan kekuasaannya. Tapi kami dan para anak-anak kecil, wanita gila yang mengandung, kakek nenek yang tua renta serta anak-anak muda jalanan menari dengan hujan bersulang air mata menelan luka duduk di tepi jalan dan rel kereta menyanyikan lagu dengan irama dan nada angin sembilu.
          Biarkan saja negri ini akan aku ceritakan pada anak-anak muda kami, agar negri ini di kenal sepanjang sejarah dan perputaran rotasi musim dan waktu bahwa kami yang hari ini ada namun tiada, bahwa kami yang saat ini hidup tapi seperti ruh gentayangan, bahwa kami para manusia yang tersisa namun terlupakan, dan bahwa kami sebuah kemenangan dari kekalahan negri dan kekayaan yang membabi buta rakyat jelatanya.
Dan anak-anak muda di masa mendatang akan melihat sebuat literatur dan tulang-belulang serta sejarah dan cerita kami menjadi sebuah lukisan negri ini. Negri dimana kemiskinan adalah hak kami dan kesejahteraan adalah hak pemimpin dan penguasa negri. Sebaik-baiknya cerita dan lukisan-lukisan di sepanjang dinding masa akan luka si jelata dari bawah jembatan dan gedung-gedung kota.
“Hahahahaha gila, dia gila” bibir mirah dan wajah minur berbicara pada teman-temannya. “Dia benar-benar gila, dan menggelikan” dengan kening yang mengernyit cuek tante jalang penggadai kehormatan negri menegaskan mulut busuk satu komplotannya.
“Aku tidak begitu heran ketika mendengar kabar tentang sebuah kompleks perumahan tempatnya prostitusi dan seks komersial yang menjual diri dan anak-anaknya untuk penghidupannya sendiri, justru sangat biadab sekali kehormatan dan wibawa negri ini di jual dan di pertaruhkan di mata dunia dengan mengorbankan masyarakat jelata” salah satu tukang becak memulai pembicaraannya di bawah terik mata hari siang itu. “Itu siapa lagi kalau bukan orang-orang yang kini proses hukumnya tidak pernah jelas bahkan di penjarapun dalam istana dengan kasur, kamar mewah, ruangan khusus, makanan mewah, lezat, mahal dan bergizi. Ironis sekali tatkala mata berkaca di pinggiran kota yang menjual diri dan mereka membelinya untuk di tumbalkan pada si biadab bangsa” dengan sangat kiritisnya pak gunawan memulai pembicaraannya pada kusumo.
Terlihat pak kusumo sangat antusias mendengarkan temannya berbicara sebijak itu, dengan segelas kopi hangat yang mulai di minumnya, seraya menyambung pembicaraan pak gunawan. “heeeeemmmm.. .. .. lucunya negri ini pak, kami tukang becak tidak ingin menyalahkan pejabat negri, tapi anak-anak kecil dan wanita hamil, atau orang tua renta dan anak-anak jalanan itu karna mereka tak punya daya apapun untuk membela diri sedang kepintaran dan kecerdasan masa kini bertujuan untuk menjerat dan melilit kemiskinan, mereka tak ubahnya merampas harta dan tanah hijau kami, setiap hari bangsa ini memberikan hak untuk rakyat seperti kita, sepanjang hari dari pagi sampai sore kami di warisi kemiskinan, kelaparan, kebejatan dan kebiadaban” Sepanjang malam saat mobil mahal di parkir di garasi, wanita modus dan pria berdasi kembali ke istna megahnya, membungkus diri di balik selimut, kita masih membalut diri dengan sehelai sarung mejadi satpam di dalam becak satu-satunya harta dan penghasilan ini, saat sebagian kemewahan di taburkan dan di hamburkan bahkan di pamerkan di diskotik, club malam, cafe, dan hotel dengan alunan merdu music dan tembang-tembang, kami tengah bercengkrama di paksa menikamti jeritan dan tangisan anak dan istri kami yang kelaparan, salahkah jika dia meminta dan menegadahkan wajah kusutnya hanya menagih recehan hak mereka yang di sembunyikan hari di sela-sela senyum lega pemuda-pemudi yang ayahnya mewariskan penderitaan ini pada kami.
Bersambung Dulu Dech.. .. .. .. ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar