LUKISAN SENJA
Dimana cinta menyembunyikan asa dan melelapkan
perasaan saat cerita hanya sekedar cara kerinduan meramaikan kepedihan tatkala
hari akan berakhir? Dimana empati alam semesta pada kepingan-kepingan hati yang
terpenjara dalam nestapa yang kami menyebutnya gerimis kalbu? Bagaimana hati
mempertanggung jawabkan luka di hadapan jiwa? Bagaimana jiwa akan menangis dan
menjerit sedang air mata itu tak lagi terlihat, luka itu tak lagi berdarah, jeritan
itu tak lagi terdengar dan kata-kata tak cukup mampu mengungkapakan kepedihan
yang mendalam?
Gejala spekulasi masa lampau dan masa kini telah
merubah peradaban sebagian manusia akan kehidupan dan kami yang berdiri di balik hari dan merenungi
gelapanya adalah sebagian korban yang belum mampu bertahan dan menerobos
pintu-pintu kekacauan, engkau melihat dia yang tertawa dengan kain compang
camping yang membalut tubuh mungilnya
dia bukan tertawa wahai kehidupan yang buta, tapi dia menangisi hidupnya
sendiri dan meratapi ketidak berdayaan dengan berpura-pura tegar dan kuat
karena dia tahu tak akan ada yang mau melihtnya sebagai kelemahan, dan di
balakang kami ini ada ribuan air mata
yang tersembunyi dan engkau melihatnya sebagai gerimis yang biasa di curahakn
langit untuk dahagamu, tapi jeritan itu berbeda dari guntur yang biasa
menakutkanmu kala hujan mendera, lalu bagaimana caranya kami bebas dari
kekacauan yang kami pun tidak menginginkannya. Malah kau datang dan tertawa
lalu bertanya ada apa? Kau ini siapa? Dan untuk apa? Tapi kau lupa bertanya kau
mengapa? Apa yang membuatmu sperti ini? Lalu saat kami menjelaskannya kau malah
lari dengan keluarga biadabmu.
Dan aku melihat di tengah keramaian kota ini puisi
dan syair berorasi dengan nada melasnya bahkan aku melihat ceramah dan pidato
menggema bagai kabar kematian menakutkan dan menyedikan melonglong ke angkasa
lepas lalu dia kembali di kabarkan langit menjadi bisikan-bisikan derita yang
panjang tapi kau negriku dengan bangsa tulimu tidak mendengarnya dan tidak akan
pernah mau mendengarkannya.
Aku pernah bertanya pada gadis kecil yang berdiri
di tepi trotoar jalan. Dan aku kembali bertanya pada wanita paru baya dengan
tangan kotornya dia merangkul perutnya, aku juga pernah mendapati sosok pria
dan wanita renta terbaring di depan gereja dengan wajah lusuh merebahkan
kepalanya pada akar pohon besar, terlihat apa yang mereka diami saat ini adalah
rumah mereka tempat mereka bersembunyi dari keserakahan. Ada apa dengan hidup
ini? pertanyaan segampang membolak balikkan tangan
saja selalu saja di jawab dengan tangis luka, dan aku mengerti ini bukan salah
siapa atau perbuatan siapa karena tangis yang terdengar dari bawah jembatan dan
sungai-sungai yang di atasnya banyak melintas rupiah-rupiah dibawa lari
orang-orang pemilik istana kaca dan gedung-gedung pencakar langit. Lalu
sesekali kulihat kerumunan manusia berpesta dan menyanyikan lagu di antara
petikan gitar dan piano aku melihat seorang pemimpin duduk manis di atas tahta
dan kekuasaannya. Tapi kami dan para anak-anak kecil, wanita gila yang
mengandung, kakek nenek yang tua renta serta anak-anak muda jalanan menari
dengan hujan bersulang air mata menelan luka duduk di tepi jalan dan rel kereta
menyanyikan lagu dengan irama dan nada angin sembilu.
Biarkan
saja negri ini akan aku ceritakan pada anak-anak muda kami, agar negri ini di
kenal sepanjang sejarah dan perputaran rotasi musim dan waktu bahwa kami yang
hari ini ada namun tiada, bahwa kami yang saat ini hidup tapi seperti ruh
gentayangan, bahwa kami para manusia yang tersisa namun terlupakan, dan bahwa kami
sebuah kemenangan dari kekalahan negri dan kekayaan yang membabi buta rakyat
jelatanya.
Dan anak-anak muda di masa mendatang akan melihat
sebuat literatur dan tulang-belulang serta sejarah dan cerita kami menjadi
sebuah lukisan negri ini. Negri dimana kemiskinan adalah hak kami dan
kesejahteraan adalah hak pemimpin dan penguasa negri. Sebaik-baiknya cerita dan
lukisan-lukisan di sepanjang dinding masa akan luka si jelata dari bawah
jembatan dan gedung-gedung kota.
“Hahahahaha gila, dia
gila” bibir mirah dan wajah minur berbicara pada teman-temannya. “Dia
benar-benar gila, dan menggelikan” dengan kening yang mengernyit cuek tante
jalang penggadai kehormatan negri menegaskan mulut busuk satu komplotannya.
“Aku tidak begitu heran
ketika mendengar kabar tentang sebuah kompleks perumahan tempatnya prostitusi
dan seks komersial yang menjual diri dan anak-anaknya untuk penghidupannya
sendiri, justru sangat biadab sekali kehormatan dan wibawa negri ini di jual
dan di pertaruhkan di mata dunia dengan mengorbankan masyarakat jelata” salah
satu tukang becak memulai pembicaraannya di bawah terik mata hari siang itu.
“Itu siapa lagi kalau bukan orang-orang yang kini proses hukumnya tidak pernah
jelas bahkan di penjarapun dalam istana dengan kasur, kamar mewah, ruangan khusus,
makanan mewah, lezat, mahal dan bergizi. Ironis sekali tatkala mata berkaca di
pinggiran kota yang menjual diri dan mereka membelinya untuk di tumbalkan pada
si biadab bangsa” dengan sangat kiritisnya pak gunawan memulai pembicaraannya
pada kusumo.
Terlihat pak kusumo sangat
antusias mendengarkan temannya berbicara sebijak itu, dengan segelas kopi
hangat yang mulai di minumnya, seraya menyambung pembicaraan pak gunawan.
“heeeeemmmm.. .. .. lucunya negri ini pak, kami tukang becak tidak ingin
menyalahkan pejabat negri, tapi anak-anak kecil dan wanita hamil, atau orang
tua renta dan anak-anak jalanan itu karna mereka tak punya daya apapun untuk
membela diri sedang kepintaran dan kecerdasan masa kini bertujuan untuk
menjerat dan melilit kemiskinan, mereka tak ubahnya merampas harta dan tanah
hijau kami, setiap hari bangsa ini memberikan hak untuk rakyat seperti kita,
sepanjang hari dari pagi sampai sore kami di warisi kemiskinan, kelaparan,
kebejatan dan kebiadaban” Sepanjang malam saat mobil mahal di parkir di garasi,
wanita modus dan pria berdasi kembali ke istna megahnya, membungkus diri di
balik selimut, kita masih membalut diri dengan sehelai sarung mejadi satpam di
dalam becak satu-satunya harta dan penghasilan ini, saat sebagian kemewahan di
taburkan dan di hamburkan bahkan di pamerkan di diskotik, club malam, cafe, dan
hotel dengan alunan merdu music dan tembang-tembang, kami tengah bercengkrama
di paksa menikamti jeritan dan tangisan anak dan istri kami yang kelaparan,
salahkah jika dia meminta dan menegadahkan wajah kusutnya hanya menagih recehan
hak mereka yang di sembunyikan hari di sela-sela senyum lega pemuda-pemudi yang
ayahnya mewariskan penderitaan ini pada kami.
Bersambung Dulu Dech.. ..
.. .. ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar